DPKP Melakukan Penilaian Dan Pengukuhan Kelompok pengolah Ikan “Ameyuki”

Penilaian dan pengukuhan kelompok Pengolah Ikan “Ameyuki” yang menghadirkan Dinas Pertanian Kelautan Dan Perikanan,Pemerintah Kelurahan Paal 2, Penyuluh Perikanan serta Pengurus dan anggota kelompok dan pemasar ikan “Ameyuki” yang terdiri dari 10 orang.

Kegiatan pengukuhan kelompok pengolah ikan “Ameyuki” bertempat di Kelurahan Paal 2 Kota Manado, pada Senin, 26 November 2018.

Pengukuhan kelompok yang sudah dibentuk, sebagaimana KEPMENKP No. 14 Tahun 2012 tentang penumbuhan dan pengembangan kelompok perikanan, harus dinilai dan dikukuhkan agar mendapat pengakuan dari Pemerintah. Kelompok pengolahan ikan ini tergolong dalam skala usaha industri rumah tangga, untuk itu adanya keterbatasan sumberdaya memerlukan pengaturan yang dapat mengoptimalkan permasalahan yang akan dihadapi dalam usaha pengolahan ikan oleh kelompok nelayan yang ada.

Untuk itu perlunya pelaksanaan penilaian yang dilakukan oleh tim penilai dari Dinas Pertanian Kelautan Dan Perikanan Kota Manado. Penilaian dan pengukuhan kelompok  pengolah ikan “Ameyuki”, sebagai kelompok berkemampuan pemula. Pengukuhan kelompok ini, dilakukan oleh pemerintah setempat yaitu Lurah Paal 2 yakni Bapak I Gusti Sudarmadja, S.Kom. Pengukuhan kelompok ini bermaksud sebagai motivasi bagi anggota dalam mengembangkan usahanya, mengingat Kota Manado terdapat potensi sumberdaya perikanan yang sangat baik. Berdasarkan potensi tersebut, upaya dilakukan agar produksi usaha perikanan meningkat dan mempunyai daya guna yaitu melalui usaha pengolahan ikan menjadi produk perikanan ekonomis.

Koordinator  penyuluh perikanan Ir. Christina Kumajas mengatakan “semoga dengan adanya pengukuhan kelompok pengolah ikan ini dapat memotivasi anggota kelompok dalam mengembangkan usahanya, mampu meningkatkan taraf hidup dari anggota kelompok pengolahan ini dan kelompok ini biasa mendapatkan perhatian dari Pemerintah”.

Menurut Ir. Nolfie Dj. Talumewo Kepala Dinas Pertanian Kelautan Dan Perikanan menegaskan bahwa “Kelompok pengolah ikan adalah merupakan wadah kelembagaan yang menjadi tempat berkumpul untuk menyampaikan segala permasalahan yang ada maupun peluang-peluang pasar dan sebagainya yang dapat mensejahterakan kelompok pengolah tersebut”.

Sangat diharapkan juga dengan pengukuhan ini kelompok pengolahan tersebut akan mampu mengembangkan usahanya dan dapat menciptakan lapangan kerja serta memberi manfaat dalam peningkatan pendapatan ekonomi dalam kelompok dan anggotanya.

Rembug Tani Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tingkat Kecamatan Wanea Kota Manado

Rembug tani kelompok kontak tani nelayan andalan tingkat Kecamatan Wanea dilaksanakan satu hari dan dihadiri oleh kelompok tani (poktan) dan gapoktan  yang berada di kecamatan Wanea yang berjumlah 20 kelompok tani, pengurus KTNA Kota Manado dan penyuluh pertanian. Pelaksanaan acara rembug tani ini bertempat di Wale Kopi Samrat, pada Kamis, 15 November 2018.

Pada kegiatan rembug tani ini dilaksanakan sebagai wadah penyusunan rencana kegiatan, evaluasi permasalahan, kemajuan dan potensi kelompok tani yang ada, juga reorganisasi pengurus KTNA di tingkat Kecamatan Wanea. Dalam pertemuan rembug tani ini kelompok dapat menerima informasi tentang budidaya tanaman, informasi tentang perkembangan pertanian atau informasi tentang varietas dari suatu komoditi.

Pelaksanaan rembug tani ini difasilitasi oleh Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan, yang  dihadiri oleh kelompok tani dan gapoktan yang ada di Kecamatan Wanea. Kegiatan rembug tani ini dilaksanakan sebagai wadah pemberdayaan pelaku utama. Kelompok-kelompok tani ini pada umumnya bercocok tanam memanfaatkan pekarangan rumah yang ada disekitarnya, dikarenakan keterbatasan lahan. Kelompok-kelompok tani ini memanfaatkan pekarangan yang ada dengan menanam tanaman hortikultura seperti tanaman hias, rempah-rempah, tanaman obat-obatan (Herbal/Biofarmaka).

Dan ada juga kelompok tani di kelurahan Tingkulu yang memiliki lahan pertanian untuk ditanami padi, jagung dan kedelai, selain itu ada juga kelompok tani yang menjalankan usaha pengolahan hasil pertanian. Kegiatan-kegiatan kelompok tani ini dilakukan untuk menambah produktifitas, pendapatan, nilai tambah atau secara umum meningkatkan kesejahteraan masyarakat lebih khusus untuk kelompok-kelompok tani yang ada di kecamatan Wanea.

Feriana Ch. Palandeng, S.Pt.,M.Si mengatakan “Rembug tani merupakan salah satu metode pemberdayaan petani melalui pertemuan yang dilakukan oleh kelompok tani (poktan)/gabungan kelompok tani (gapoktan) yang difasilitasi oleh penyuluh, rembug tani sebagai media solusi permasalahan petani”.

Untuk itu pelaksanaan rembug tani seperti ini perlu dilaksanakan secara kontinu agar segala kegiatan usaha tani dapat berjalan dengan baik sebagaimana yang diharapkan, demi kemajuan petani dan kesejahteraannya.

“Dinas pertanian Kelautan Dan Perikanan perlu memfasilitasi kegiatan rembug tani ini mengingat petani merupakan mitra kerja Dinas, dalam pengembangan pertanian di Kota Manado” kata Ir. Nolfie Dj. Talumewo sebagai Kepala Dinas Pertania Kelautan Dan Perikanan Kota Manado.

Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) Jadi Biogas Energi Listrik

Kepala dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan memberikan tugas kepada Kepala UPTD RPH Bailang untuk melaksanakan tugas terkait dengan Biogas energi listrik.

Kegiatan ini dilaksanakan di Rumah Potong Hewan Sapi Bailang Kecamatan Bunaken. Pelaksanaaan kegiatan pada hari Jumat, 9 Nopember 2018.

Produk akhir dari proses pemotongan hewan di rumah potong hewan (RPH) adalah limbah. Ada dua macam limbah yang didapatkan di RPH yaitu

1).  Limbah padat berupa isi rumen, feces, dsb.

2).  Limbah cair berupa urine, darah, dsb.

Pada dasarnya limbah ini menimbulkan polusi udara (bau yang menyengat) dan harus ada solusi dengan menciptakan salah satu inovasi yaitu dengan pengolahan limbah menjadi biogas energi listrik terbarukan.

Salah satu program Pemerintah Kota Manado yaitu Aparatur Sipil Negara (ASN) harus mampu memberikan inovasi kepada Pemerintah Kota, dalam rangka menuju Manado Smart City tahun 2021.

Pemerintah Kota Manado melalui BAPELITBANGDA, melakukan MoU dengan Feng Chia University yang difasilitasi oleh APEC-ACABT dan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado, dengan melakukan perjanjian kerjasama untuk membangun pembangkit listrik tenaga biomasa di RPH Sapi Bailang dengan memanfaatkan limbah RPH dan sampah organik lainnya.

Joyke N. Tumbel, S.P, sebagai  Kepala UPTD RPH Bailang meyatakan “Dengan diresmikannya pilot project “Hy Me Tek” yang berupa pembangkit listrik tenaga biomasa ini, kiranya akan membuka mindset atau cara berpikir masyarakat kota dan pemerintah bahwa limbah bias dijadikan Energi listrik”.

Dan kedepannya diharapkan dapat dibangun proyek dengan daya yang lebih besar, karena saat ini daya yang ada hanya 5 KW.

Kepala Dinas Pertanian, Kelauta dan Perikanan Ir. Nolfie Dj. Talumewo mengatakan, penyerahan alat tersebut dilakukan oleh Feng Chia University dan APEC-ACABT Taiwan kepada Pemerintah Kota Manado yang di terima langsung oleh Walikota Manado yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Kota Manado bapak Micler C. S. Lakat, SH.,MH.

Dengan adanya pemanfaatan limbah kotoran sapi dan limbah pertanian lainnya maka ada dua hal yang bisa teratasi:

  1. Limbah kotoran hewan (sapi) dan limbah pertanian lainnya dapat dimanfaatkan sehingga mengurangi dampak dari penumpukan sampah yang ada.
  2. Pemanfaatan limbah tersebut akan membantu masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan tapi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penggunaan biolistrik.

Dengan pengembangan listrik biomasa dengan memanfaatkan limbah organik kotoran sapi untuk menjadi sumber energi listrik. Sumber listrik yang dihasilkan dari alat yang ada saat ini memang masih terbatas namun diharapkan kedepan dapat terus dikembangkan dan dioptimalkan untuk kebutuhan listrik di Kota Manado. Listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga biomasa ini akan digunakan untuk pasokan listrik dikawasan RPH Bailang dan selanjutnya terus akan dikembangkan untuk kebutuhan listrik yang ada disekitar RPH termasuk untuk penggunaan fasilitas umum.

Program Konversi BBM ke LPG 3 Kg Untuk Nelayan Kecil di Kota Manado

Pembagian paket perdana konverter kit pada program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Liquified Petroleum Gas (LPG) Tahun Anggaran 2018, dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Kelautan Dan Perikanan Ir. Nolfie Dj. Talumewo, Walikota Manado yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Kota Mikler Lakat, S.H., M.H, Kementerian ESDM yang diwakili oleh Irjen Pol. Drs. Widyo Sunaryo (Purna), Komisi VII DPR-RI Bara K. Hasibuan, M.A, Camat Tuminting Drs. Dany Kumayas, Perwakilan PT. Pertamina Parrama R, Ap., serta para nelayan yang akan menerima bantuan.

Sosialisasi dan penyerahan bantuan tersebut berlangsung di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tumumpa Kecamatan Tuminting. Kegiatan ini dilaksanakan pada 8 November 2018 sebagai sosialisasi pemberian paket konversi BBM ke BBG untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil di Kota Manado. Dilanjutkan dengan pendistribusian  paket bagi nelayan yang sudah terdata pada 9, 10 dan 12 November 2018 secara gratis.

Program konversi BBM ke LPG ini diberikan kepada nelayan kecil untuk menghemat bahan bakar kapal kurang lebih 50% sehingga bisa meningkatkan taraf hidup/kesejahteraan para nelayan kecil yang ada di Kota Manado, kemudian program penggunaan LPG ini sangat ramah lingkungan.

Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (MIGAS), bekerja sama dengan PT. Pertamina juga Dinas Pertanian Kelautan Dan Perikanan Kota Manado. Adapun program ini, merupakan program kemitraan Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR-RI. Pemberian bantuan bagi nelayan di kota Manado sudah melalui tahapan verifikasi sesuai kriteria penerima bantuan seperti Nelayan pemilik kapal dengan kapasitas kurang lebih 5 GT, tenaga mesin kapal yang terpasang setara dengan 13 HP berbahan bakar bensin, menggunakan alat tangkap ramah lingkungan  atau tidak menggunakan jaring yang dilarang dalam penangkapan ikan, nelayan belum pernah menerima bantuan sejenisnya, memiliki kartu nelayan atau identitas yang terdaftar di Kementerian Kelautan Dan Perikanan. Tujuan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan konversi BBM ke BBG untuk penghematan Devisa Negara dikarenakan Indonesia masih mengimpor 1,4 juta barel/hari, sedangkan hasil dalam negeri hanya 8.500 barel/hari.

Kata Ir. Billy Watuseke Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan, “Program konversi BBM ke LPG bagi nelayan kecil di Kota Manado sangat baik dilaksanakan untuk dapat meningkatkan produksi perikanan tangkap, karena dengan penggunaan LPG biaya akan lebih murah sehingga trip penangkapan akan lebih banyak dilakukan sehingga lebih berpeluang untuk mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak dari pada menggunakan bahan bakar minyak”.

Kepala Dinas Perikanan Kelautan Dan Perikanan Ir. Nolfie Dj. Talumewo menjelaskan, “Program kemitraan ini sangat baik dalam membantu Pemerintah Kota Manado, terutama paran nelayan yang ada di Kota Manado. Diharapkan bantuan Bahan Bakar Gas berupa LPG bagi kapal perikanan yang diberikan dapat dimanfaatkan sebaik mungkin demi meningkatkan pendapatan nelayan”.

Pendataan Barang/Pemeriksaan Aset Fisik dan Data

Konsultan barang bersama dengan pengurus barang dan Simda barang.

Pendataan/pemeriksaan barang dilaksanakan di beberapa tempat yakni Kantor Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan (DPKP), Rumah Potong Hewan (RPH), Rumah Potong Unggas (RPU), Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Kelompok-kelompok tani penerima bantuan.

Pemeriksaan barang berlangsung satu bulan yaitu pada bulan Oktober 2018.

Konsultan barang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan pemeriksaan barang dan pendataan aset barang yang ada dalam Kartu Inventaris Barang (KIB) A sampai KIB F termasuk aset lain-lain. Dilengkapi dengan foto barang agar aset terkontrol dan data menjadi tertib dan akurat.

Data yang diberikan ke konsultan barang BPK sejak tahun 2008 sampai 2018, kemudian barang-barang yang ada dicek satu demi satu dan dibuat dokumentasi serta dilaporkan kondisi barang sampai pada saat itu. Konsultan barang memberikan laporan ke kepala dinas dan di tanda tangani oleh pengurus barang dan petugas konsultan barang.

“Pemeriksaan barang seperti ini oleh konsultan barang BPK hendaknya terus di tingkatkan agar penataan barang atau aset akan semakin baik sehingga aset terkontrol dan tertata sesuai aturan yang ada”. ungkap sekretaris Dinas PKP Ir. Abram J. Dopong

Ir, Nolfie Dj. Talumewo sebagai kepala Dinas PKP mengatakan bahwa “Pemeriksaan barang ini sangat penting guna mengetahui semua keberadaan aset Pemerintah Kota Manado yang ada di dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan”. Selain itu tentunya dapat diketahui aset-aset yang sudah rusak berat, rusak ringan dan yang masih baik di gunakan.

DPKP Melakukan Kaji Terap Tanaman Buah Naga (Dragon Fruit)

 

Kegiatan kaji terap tanaman buah naga (Dragon Fruit/Hylocereus) ini dilaksanakan oleh Seksi Metode dan Informasi Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kelautan Dan Perikanan Kota Manado. Dan pelaksanaan kegiatan ini berlokasi diKelurahan Malalayang Dua Kecamatan Malalayang. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 10 minggu mulai 1 Agustus 2018 sampai selesai.

Buah naga (Dragon Fruit/Hylocereus) termasuk komoditi langkah di Indonesia, buah naga ini memiliki bentuk yang sangat unik dan cukup memikat untuk dilihat, bentuk fisiknya mirip buah nanas hanya saja buah ini memiliki sulur disekujur kulitnya. Bentuk tanaman buah naga ini mirip dengan pohon kaktus berupa sulur-sulur yang memanjang seperti lidah naga yang menjulur.

Studi banding budidaya buah naga yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Kelautan Dan Perikanan Kota Manado ke Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat untuk mengetahui dan membandingkan dengan kondisi/keadaan di Kota Manado. Kemudian membandingkan hasil budidaya tanaman buah naga yang dikembangkan didaerah dataran tinggi yang memiliki suhu udara dingin dengan dataran rendah yang bersuhu panas seperti Kota Manado.

Kaji terap budidaya buah naga ini dilakukan dengan cara vegetatif yang relative lebih mudah dan banyak dipakai, prosedur yang dipakai sebagai berikut:

  1. Penyiapan lahan atau lokasi tanam untuk penanaman stek-stek batang buah naga
  2. Pembuatan tiang panjat untuk menopang tumbuhnya batang buah naga
  3. Penanaman bibit batang buah naga
  4. Pemupukan dan Perawatan buah naga
  5. Pengamatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman dengan pengukuran pertumbuhan tunas buah naga setiap minggunya selama 10 minggu.
  6. Selesai pengamatan dan kajian selama 10 minggu, diperoleh kesimpulan bahwa tanaman buah naga dapat dikembangkan diKota Manado, karena tanaman ini dapat beradaptasi dengan kondisi alam yang ada.

Kepala Bidang Penyuluhan DPKP Feriana Ch.Palandeng, S.Pt,.M.Si mengatakan “Kaji terap buah naga ini merupakan salah satu metode penyuluhan pertanian yang merupakan uji coba teknologi yang dilakukan untuk melihat dan membandingkan hasilnya dengan lokasi dan kondisi yang lain, untuk dapat dijadikan acuan dalam merekomendasikan bagaimana teknologi ini diterapkan di Kota Manado maka, dibuatlah kaji terap buah naga ini yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Kota Manado yang ingin melakukan budidaya tanaman buah naga ini”.

Untuk masyarakat kota manado yang ingin mengembangkan budidaya buah naga ini disarankan saat akan memulai usaha penanaman hal penting yang harus di perhatikan adalah “pemilihan bibit dan perawatannya itu penting sekali”, ujar Feriana.

“Buah naga ini sangat adaptif  untuk dibudidayakan didaerah-daerah yang memiliki suhu udara yang dingin sampai pada suhu udara yang panas, untuk itu Dinas Pertanian Kelautan Dan Perikanan Kota Manado melakukan kaji terap buah naga (dragon fruit) ini untuk kepentingan petani yang ingin mengembangkan budidaya tanaman buah naga ini”, kata Kepala Dinas Ir. Nolfie Dj. Talumewo.

Hal penting dalam budidaya tanaman buah naga ini adalah penyinaran sinar matahari yang cukup untuk pertumbuhan buah naga ini. Untuk itu perlunya memasyarakatkan budidaya tanaman buah naga ini kepada petani-petani yang ada di Kota Manado.